Miris

akhirnya niatnya kekumpul juga buat nulis lagi. soalnya kemaren menyibukkan diri buat projek baru buat Android. sekarang udah kelar. mesti cepet-cepet direalisasikan soalnya mumpung ada ide. biar ga tumpul juga nih skill ga di pake lama.

sesuai dengan judul postingan kali ini, sama seperti yang gw rasain saat ini. kali ini postingannya agak sedikit serius. iya gw bisa serius. ga kebayang kan? gw juga bingung kenapa gw bisa seserius ini. biasanya gw yang gabisa serius, selalu becanda, selalu kalo kencing duduk.

ehm, lupa lagi serius…

gw miris. miris sama keadaan. bukan, bukan karena gw terlalu ganteng (inget, serius), tapi gw miris sama rasa kemanusiaan di tanah tempat gw tinggal. yang mana gw rasa dari waktu ke waktu semakin menipis.

berat yah topiknya ? gw angkat badan gw topik yang berat banget ini karena gw udah gatau lagi deh mesti bereaksi apa lagi. gatau harus merespon apa lagi, gatau harus komentar apalagi karena menurut gw udah terlalu akut.

Emangnya ada apa dengan kemanusiaan di tanah tempat lu tinggal ?

sedikit terpuruk aja. terlalu banyak yang bikin miris. ketidak toleransian, keegoisan, dan ke-an-ke-an yang lain. di tanah yang katanya perbedaan itu indah, di tanah yang katanya berbeda-beda tapi tetap satu, tapi pada kenyataannya yang gw lihat, yang gw amati itu hanya sekedar slogan, hanya sekedar kata-kata yang diajarkan ke anak-anak di sekolah dasar.

mayoritas yang-secara-tidak-langsung-terlihat-tapi-tidak-terlihat-ada-tapi-terasa-tidak-ada menindas minoritas. superior merasa lebih layak hidup dibandingkan sang inferior. seakan akan sang superior itu lupa bahwa si inferior itu manusia, yang mana si superior itu juga manusia. mungkin kalo si superior itu makhluk terrestrial mungkin ceritanya akan sedikit berbeda.

mungkin gak cuma di tanah ini aja sih permasalahan ini terjadi. gw yakin tanah-tanah nun jauh di sana pun juga mengalaminya. tapi karena gw tinggal di tanah ini, jadi ya gw mirisnya di sini.

gw juga merasa kadangkala masih bersikap seperti yang gw sebutkan diatas, gw bukan Tuhan yang maha sempurna. tapi gw berusahan untuk sensitif, peka merasakan anomali ini dan langsung sadar bahwa itu salah. dan sepertinya orang seperti gw adalah minoritas. yang mana, pasti, di tanah ini akan kalah dengan sang “mayoritas”.

buat yang udah mengorbankan waktunya untuk baca postingan gak penting, ga jelas dan aneh ini, gw cuma mau ngomong bahwa sebenernya apa yang terlihat, apa yang nampak tidak selalu mewakilkan gambaran dari hal tersebut. sometimes you just have to see it from different perspective.

miris yah ?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s